Mengejar Mas Bara ; Bernard Batubara

“Jika memang kau punya mimpi,  jangan diam.  Terus kejarlah dengan usaha, niat dan keyakinanmu. Jangan hilangkan harapanmu” 
Ini hanya ceritaku yang bermimpi ; ketemu penulis. Malam ini mengejar Mas Bara, aka Bernard Batubara. Aku mengenal Mas Bara lewat  novel Kata Hati. Ia menulis ceritanya dengan apik dan sangat tertata rapi. Entahlah, mungkin kalimat-kalimat didalamnya telalu melancolis, atau emang dasar akunya yang Melo, dihalaman terakhirnya aku merasa jatuh cinta dengan buku itu. Dibelakang sampul terakhir, ada biography Mas Bara. Disana ditulis email, blog, dan akun twitternya.  Tanpa pikir panjang, aku follow twitter dan ngepoin bloggnya yang berjudul Bisikan Busuk.
 
Selang beberapa bulannya lagi dia launching buku barunya berjudu Milana, Cinta. (Baca; cinta dengan titik), dan yang paling baru Surat Untuk Ruth. Ditunggu seterusnya ya Mas.

Jadi, malam itu aku sudah berniat jauh-jauh hari melihat Kak Bara baca puisi di acara FKY yang diadakan di jantung Taman Sari. Aku udah banyak planning kalau ketemu sama Mas Bara.
Masalahnya, jauh hari terpikir, aku tidak ada kendaraan, nah, aku harus berupaya gimanapun caranya aku harus kudu mesti berangkat kesana. Mbuh piye carane. 

Temanku si Lely udah aku booking untuk nemenin aku kesana. Kebetulan, dia juga pecinta sastra. Yaudah, diputuskan malam itu untuk menyewa motor rental. Namuuun, tidak bejo. Di rental dekat kos ini tidak ada motor matic yang tersedia, langsung tepok jidad. Waktu udah mepet, pukul 18.05 waktu Indonesia bagian cemas.

Tapi pucuk dicinta ulam kepepet. Ada Ratih Baru balik dari? entah darimana. Taraa..!! langsung nyerobot Ratih.

“Ratih, habis ini mau keluar lagi nggak?” Tanya Lely penuh harap

“enggak mbak, kenapa?”

“mau pinjem motor ke FKY nih. Ada yang ngebet mau ketemu sama penggemarnya baca puisi”

“oh iya mbak pakek aja. Aku nggak keluar kok”

Aku yang lagi dikamar masih siap-siap sambil ngomong sendiri “mau ketemu bara. Ketemu bara, oh ketemu bara”  langsung mencolot keluar  denger Ratih minjemin motor “Makasih banget Raaaat!” senyum lebar.

Tanpa pikir panjang, kita siap-siap dan baru berangkat pas pukul 06.40. acaranya pukul 07.30. nyalain motor, lihat jarum ukur bensin, aduh! Bensin merepet. Lima menit sampai pom bensin, dan ANTRI. Sialaaaaaan.

Aku langsung buka twitter, liat akun FKY sama akunnya Mas Bara. Ternyata belum mulai. Oke, aku berusaha santaeeee.

Antri bensin lima belas menit. Kalau acaranya tepat waktu, berarti masih sisa 30 menit, harus sampai ke Taman Sari. Sedangkan dari Amplas kesana paling nggak lancer-lancarnya 20 menit.  Mikir keras kalau Mas Bara dapet giliran baca puisi pertama bisa nyesek tujuh malam.

Akhirnya, ngeeeng… berhenti. Kena lampu merah (sampai 4x.  setiap lampu merah 60 detik/70 detik 60x4 = 4 menit.  Anggep aja 5 menit) Udah nyesek liat jam tangan. Dipinggir jalan banyak punk-punk. Ada acara apaan nih banyak te-Punk dijalan. Firasat buruk.

Sampai di perempatan malioboro. Edan, macet! Te-punk kececeran pakai baju Outsider sama Endank Soekamti. Ternyata di alun-alun ada konser. Argh ! Jam udah nunjukin pukul 07.40. didalam kemacetan aku coba check twitter, tapi internet lemot maximal. Ya so, tanpa ngeributin handpone, yang penting sampek disana lebih cepat. Ssset set, udah keluar dari area alun-alun. Bablaaas…

Nah. Sampek di belokan sebelum pasar ngasem, macet beeeh.. emang asem. Udah pukul 07.50. ah yoweslah gari sitik neh. Sabar.

In the end. Masuk juga digapuro FKY. Ha ha ha.

Desak-desakan. Tidak apa-apa. Tinggal lari saja. Pas masuk taman sari lewat belakang pasar ngasem. tangan Lely aku tarik sambil lari “Ayooo cepet, wis jam wolu”

Sampailah aku pada Jantung Taman Sari. Sebelum masuk, aku dan Lely tarik nafas panjang. Ngos-ngosan lari dari ujung ke ujung. Ternyata belum ketinggalan. Alhamdulillah.

“oke fix. Masuk. yoo” aku berjalan beriringan dengan Lely. Lihat ke kiri ada laki-laki pake baju putih sedang duduk sambil membawa buku. “Wik? Ada Bara!”

Aku reflex langsung balik lari kebelakang menggagalkan jalan lurus menuju pelataran.. Entahlah, aku seperti diperlihatkan pada sesuatu yang membuat jantungku mondar-mandir didalam tubuh dengan dentuman dug dug yang tidak berujung. Ah!

Lely dengan heran mengikutiku jalan berbalik arah
“alapo ngunu kuwun ndeh. Arek nang gajelas bals og”
(kenapa kaya gitu? Dasar nggak jelas!)

“hadoooh onok Bara lo!”
(aduuuh Ada Bara)

“kepiye she. Jekene onok opo wae nduh nduh arek kok”
(kok gitu sih. Kayak liat apa aja anak ini)

Lely gergetan melihat tingkahku yang aneh. Dia tau mauku. Kamera digital dikeluarkan dari tas “ndo, kamerae wes tak siapno, wes ndang age, ayo melbu cuaah”
(nih, kameranya udah tak siapin. Udah ayo, buruan masuk)

“sek sek sek. Aku masih ngatur nafas, fotone ntar wae lo nek pulang. Ojok sekarang” sepuluh detik  berlalu. Dipelataran sudah banyak penonton yang duduk sambil menbaca buku Puisi d Jantng Taman Sari, yang dibagikan gratis oleh pihak penyelenggara.

Akhirnya aku dan Lely masuk. Aku sedikit menoleh ke kiri. Jeng jeng.. Mas Bara lagi serius baca buku puisi. Aku sepanjang jalan melewati selangkah didepan Bara dengan memegang dan meremas-remas tangan Lely. Saat sudah melewatinya, jantung tidak berhenti dag dig dug.

Dan, kita duduk.

Aku duduk dan masih melihat Mas Bara merunduk baca buku dari jauh.

Kata batin : Akhirnya, setelah sekian lama aku bermimpi ketemu dia. Sekarang Mas Bara wes didepanku secara nyata 

Acara berlangsung bagus. Meskipun sedikit menjengkelkan sama anak-anak yang agak berisik. Tapi itu tidak lama. Semua tertib.

Dengan disuguhi beberapa penyair lainnya yang tidak kalah keren. Mereka semua damn amazing. Aku suka dengan mereka semua. Membawakan puisi dengan gaya khas nya sendiri. They all give us something different to be reminded.

Something to be reminded
dari Mas Bara ya ini “Heeeeeee-y.. Kaa-puaas”

Saat itu rasanya bahagia banget. Aku bahagia menjadi penikmat mereka sampai akhir, dan manjadi penikmat penyair yang terakhir ; Bernard Batubara.

Sebelum bergegas pulang aku menyiapkan kertas sketch book kecilku yang sudah ada gambar wajah Mas Bara dan doodling nggak jelas lainnya untuk di Sign. Karena penyesalanku adalah  tidak membawa novel Mas Bara yang sekarang sudah ditata rapi dirumah (Gresik). Jadi, ya aku buat sesuatu aja yang kiranya berkesan.

Ini lagi. Saat mau minta sign dan photo juga gemeteran. Emang dasar aku !
“hai, kak Bara” (aseli ya, sapaan ini sungguh ancen tak sadari. Kaku banget) sambil handshake.
Dalam hati aku terharu banget bisa handshake sama ini orang.

Mas Bara balas “hei, Hello” sambil senyum dikit

“boleh minta sign, kak?”

“hem boleh”

Aku mau Mas Bara sign di buku Sketch Book-ku yang awut-awutan itu “Sign disini kak. Hehee”

“sebelah mana ni?”

Iya, pasti Tanya gitu. Orang kertasnya udah penuh coretan “dimana aja boleh kak. Soalnya tadi nggak dapet bukunya sih”

“loh kenapa kok nggak dapet. Minta aja” jawab Mas Bara merunduk sibuk Sign diatas sketch book-ku

“boleh ya, kak?”

“boleh. Mintak aja”

“kak, kasih kata-kata juga dong. Hehe” (didalam rencana ini ; harusnya aku suruh dia nulis kata-kata dibalik kertas itu. Biar kata-katanya panjang. Tapi sialan mulutku nggak bisa ngomong!) akhirnya
Mas Bara nulis kalimat seadanya dikertas coretan itu. Huf.

Terus mintak foto. Yeeeey ! tapi maaf minta fotonya terus-terusan (dan didalam rencana ini ; harusnya aku ajak dia selfie pake hapeku sendiri. Tapi sialan lagi, lidahku nggak mau jalan. Ah!)

“makasih ya, kak Bara” senyum sambil handshake (lagi)

“iya. makasih ya” bahagiaaaaaa banget.

Kemudian selesai.

Tapi aku dan Lely minat sama buku Puisi di Jantung Taman Sari, akhirnya kita nyamperin salah satu pembawa acaranya untuk mintak buku itu. Ternyata boleh. Yew.

Jalan balik ke pasar ngasem, eh ternyata Mas Bara masih dipalang sama fans lainnya. Hore ketemu bara lagi. Mintak sign lagi dibuku Puisi

“hey kak”

“eh, kamu yang tadi”

“hehe iya. Minta sign lagi, boleh?”

“Boleh.. “ Mas Bara ambil buku puisi dari tangan saya “siapa namanya?”

“Alvaita”

“Al?”

“al Vi-a-i-te-a. alvaita”

“oh, kayaknya tadi lihat nama ini ditwitter”

“iya kak, tadi aku mention kak Bara” aku menyembunyikan senyumku dan dalam hati mencolot jimprak-jimprak bahagiaaaaaaa banget. Tidak tahu, kenapa? Pokoknya aku bahagia. Titik.

“oke, udah”

“oke, makasih ya, kak” salaman lagi. Haha. Hati ini gambarnya lopek lopek kalau salaman sama Mas Bara malam itu.

“iya, makasih ya” (dan dalam rencana ini; harusnya aku menyuruh Mas Bara nyebutin namaku sekali aja. Aku pengen di say ‘hai, Alvaita’. Tapi lagi lagi, lagi lagi. Nggak bisa ngomong gaaes)

Setelah itu, aku berjaan didepan. Dibelakangku ada mas Bara dan kawan-kawan. Aku rasanya melting, salting, hening. Aku langsung jalan ala lari. Pokoknya terlalu seneng jadi kaya gitu. Kaya orang ayan. Suwer. Aneh. Akhirnya aku belok ke gang, lewat jalan pertama tadi, tapi terlalu jauh, jadi balik ke jalan orang-orang lewat. Luruuus. Yey, aku dibelakang Mas Bara dkk lagi. Liat mas Bara jalan. Bahagia itu sederhana. Betul ga ibuk-ibuk? :D

Lalu, kita pulang.

Sesampainya dikos, aku memutar rekaman suara Mas Bara, dari yang diwawancarai sampai dia berpuisi di awal sampai akhir. Rasanya masih bahagia banget. (pelukan lewat suara sekedarnya)

Makasih Mas Bara, malam tadi sudah membuatku menjadi orang bahagia, orang linglung, orang salting, orang ayan, orang yang beruntung, orang yang jatuh cinta pada karyamu.

Good Luck ya Mas Bara, terus berkarya, terus ditungguin apapun karyanya.
 

Alvaita Luwva

Eh, kak. Tulisanku ini juga kayaknya perlu sign dari kak Bara deh *salto*

0 comments:

Post a Comment

Komentar