Reading
Add Comment
Tenang saja, saat dirimu merasa aku
jahat dan menghakimiku sebagai orang yang tidak memahamimu, aku coba tetap
tenang. Ya tenang saja, aku akan tenang. Meskipun pribahasamu itu belati besi
yang baru kau beli. Masih bersih dan sangat perih jika kau gores di kulit. Apalagi
jika kau tusuk belati itu pas dalam
hati. Tenang saja, aku bisa menutup darahku perlahan, mengobatinya sendiri
hingga kering. Sembari menunggu lukaku kering, aku tetap berjalan untuk yang
lain ; mengejar mimpiku untuk membuatmu bangga padaku. Hingga kau menuntaskan
dendam, dan kubayar dengan kebanggan. Walau aku tidak tahu, saat aku
membanggakanmu, aku masih hidup ataukah sudah mati karna belati pisau tajammu. Tenang
saja, harusnya aku merasa telah memahamimu sangat jauh. Tapi kau tak mampu
menyadarinya dengan utuh. Tenang saja, sayang. Tenang saja.

0 comments:
Post a Comment
Komentar