Reading
Add Comment
ASSALAMUALAIKUM !
Diary
Aaah... akhirnya bisa
ngeblog. Tarik napas dulu. Huh hah.
Sebelumnya Marhaban ya
Ramadhan, ya. selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Semoga
puasa kalian berjalan lebih sempurna dari tahun sebelum-sebelumnya. Amiin..
Mau basa-basi apaan ya.
bingung. Gini aja deh, cerita awal Ramadhan di Jogja.
Jadi, Aku sekarang
sedang menjalankan bulan puasa di Jogja. Yah, meskipun agak disesali kalau
puasa pertama tidak dirayakan dirumah. Gara-gara jadwal kuliah doang ini nih. Korban
PHP kampus. Ditulisnya tanggal 13 Juni sudah aktif kuliah, malah ditunda dua minggu
kedepan. Namely is kampret moment.
Jadi, gara-gara PHP
kampus tersebut, akhirnya mau nggak mau bulan puasa hari pertama, aku jalankan
dengan keikhlasan di Kos. Untungnya para
mahasiswa UIN SUKA yang menghuni kos ini tidak pulang kampung, karena kegiatan
KKN. Setidaknya aku tidak sedih sendirian.
Sholat tarawih pertama
dikota orang, yang dirasakan oleh mereka hanyalah keganjalan. Mereka belum
terbiasa dengan cara tarawih di Jogja. Sepulang dari tarawih mereka semua
berlomba-lomba mengutarakan perasaan. Dari yang ingin pulang, sampai
mengiang-ngiang *alah, membayangkan beberapa kebiasaan mereka saat tarawih di
Gresik tercintah. Ya, tidak dipungkiri, dulu aku pun seperti itu. Memang sangat
berbeda. Tapi semenjak kuliah disini, saat bulan puasa aku tidak pernah libur, jadi daku sudah terbiasa dengan semua itu. Dari sini, mereka semua mulai jadi HOMESICK
addicted.
Sahur pertama dikota
orang, yang dirasakan oleh mereka hanyalah kebingungan. Sahur pertama sedikit
pembodohan ya kalau menurutku. Jadi, setelah pulang sholat tarawih rencana
mereka semua yaitu bangun setengah tiga, titik.
“Pokoknya KITA-HARUS-BANGUN-SE-TE-NGAH TI-GA. HARUS!!” dengan ngototnya
mereka ngomong gaya pawai sang partai-partai. Aku hanya merespon “hmm.. hmm..”
karena SUDAH KUDUGA mereka tidak akan bisa bangun se awal itu. Akhirnya aku
pasang alarm pukul 03.00 WIB.
Yak, setengah tiga pun
lewat seperti kapas yang ngayang-ngayang halus, sepi, senyap. Sampai pada jam
03.00 alarmku yang berbunyi dan aku langsung beranjak tegas MENGGEDOR-NGGEDOR
pintu para tetangga ini. Dengan malas-malasnya mereka bangun dari kelelapan
sisa-sisa semalam. Tanpa pikir panjang aku dan mereka semua, ganti baju untuk mencari
sesuap sahur.
Sebagai aku, yang dulu
sudah pernah mengalami puasa dikos seorang diri, Aku dulu selalu membeli sahur
seadanya, seberhentinya motorku, yang penting makan. Nah, disini aku sekarang
tidak sendiri, jadi aku harus menanyakan keinginan mereka satu persatu. (jumlah
orang disini : 4). Akhirnya diputuskan untuk membeli sahur dtempat biasa kita beli makan
tiap hari. Sesampainya disana,
motorcycle parking looks like a gangstar. Motor udah bejibun parkir. Sedangkan ini posisi udah
jam 3. Sudah tidak mungkin, dan mereka juga sangat malas untuk antri. jadi,
kita mencari tempat yang lain, aku sudah usul dari awal, beli makannya ditempat
‘ini’ aja, tidak ada yang mau. Ujung-ujungnya juga kesana. Tapi sampai sana ‘zonk’
nasi sudah habis.
Pada akhirnya yang
mereka beli hanya sepotong ayam, dan sejumput sayur, dan membeli nasi di
burjonan (bukan bubur kacang ijo, ya. ini semacam warteg, tapi kebanyakan yang punya orang bandung)
Yah, seperti itulah
akhirnya. Awal hidup anak kost dibulan Ramadhan.
Semoga nasib kalian tidak se 'zonk' itu, ya. Happy Fasting.

0 comments:
Post a Comment
Komentar