malem ramadhan.


Malem ini aku lagi me to the low. Tiba-tiba aja dramatis. Awalnya nggak kenapa-kenapa. Tapi mendadak jadi wanita yang kenapa-kenapa dalam waktu singkat. Pertama, ini adalah malam bulan ramadhan. Ah! you know what lah readers.. aku di dunia lain (maksutnya Malaysia). Seharian tadi habisin pulsa RM.20.00 buat telephone sama si Mbok. Udah aku rancang sebelumnya. Dari kemarin si Mbok sms aku terus tapi aku nggak ngebales. Dikarenakan : ngerti kan.. kalo namanya kangen bales sms aja nggak cukup. Dapet tulisan doang. Malam itu juga aku lagi kerja. Pulang kerja coba telephone si mbok eh.. sinyal lagi nggak aduhai. Untung aja hari ini aku cuti. Si mbok sudah kirim message yang isinya bikin aku nggak mau lagi nunda telephone. Aku memutuskan melayang keluar ditemani si Superman. Aka Anif. Because dia juga mau pangkas rambut. Jadi sekalian jalan.

Tunggu apalagi? Telephone si Mbok. Hamper empat session telpon mati. Aku gosok voucher di empat kali session. Ya karena memang telephone mati gara-gara pulsa habis. Mungkin sekitar 2 jam bisa telephone dengan dana RM.20.00. kalo diruppiahkan sih (sekitar Rp.60.00 lebih) halah. APASIH ARTINYA UANG DEMI SI MBOK. Selama uang itu nggak di rupiahkan sama saja kok harganya. Anggap saja itu Rp.20.00. nggak banyak kan?! Sayang sekali hanya dua jam. Dalam dua jam itu juga, mataku agak sedikit memar merah merona. Bukan bukan bukan terharu, lebih tepatnya mungkin karena aku yang terlalu mengingat-ngingat sendiri satu persatu orang-orang yang dirumah. Wajah demi wajah melingkari pikiranku setiap si Mbok bercerita tentang keadaan keluarga dirumah. Apalagi kalau sudah ngomongin tentang anak-anaknya  om sama bulek-bulek. Haaaaaa rasanya seperti masuk dalam kaca doraemon terus tiba-tiba langsung berada dimasa lampau dengan mengingat ketawa mereka dan usilnya mereka yang kadang bikin gergetan dan kesalnya minta diampun. So far, when I hate some children at the time. However I can’t hide about how really suck I’m to say that ‘I never miss them –now-’ as child as I’m missed by every aunt’s and my youngest uncle who loves me at that time as children. (sorry ini broken english. *kalo salah khilaf)

Telephone yang terakhir tiba-tiba dua kali nggak diangkat gitu sama si Mbok. Ternyata batreinya is died. Nggak lama diangkat lagi, dan .. sudah. Seperti biasa pesan penutup ‘dijaga kesehatannya baik-baik. Jangan lupa sholat, ngajinya. Assalamualaikum’. ‘Insyaallah.. wa’alaikumsalam’. tut-tut-tut-. Pekh.. aku menghela nafas. Kalau nuruti hati yang cengeng bin dramatis. Daritadi bisa nangis ditelphone. Tapi untung bin selamet aku bisa ngelak. No no no no and no. itu nggak  baik kan pemirsah? Jadi sebelum saya terlarut lagi dalam secuil demi secuil wajah mereka, aku ahiri dulu sesi curhatnya. Sekian. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan. Semoga nggak bolong-bolong. Semoga yang lagi merantau juga nggak sedih jauh sama keluarga ya. Nggak baik sedih pas puasa (gomong depan kaca) *puk-puk diri sendiri. Sabar.. sabar –sambil elus dada-*