Reading
Add Comment
Ia
hanya lelaki biasa yang tidak pernah tahu kesempurnaan yang ia miliki. Dari
berbagai sudut ia dipuji wanita-wanita cantik dan sangat baik. Tapi lagi-lagi
ia tidak pernah tau hal itu. Kekaguman wanita padanya tak pernah terdengar pada
dirinya sendiri. Karena setiap wanita yang ingin mendekatinya selalu merasa,
mereka akan sia-sia jika harus benar-benar mengatakan kekagumanya pada
laki-laki ini. Karena, mereka tau. Laki-laki ini tidak seperti yang lain. Ia
sangat menghormati wanit-wanita yang ia kenal. Sangat hormat. Sebut saja
laki-laki ini sebagai Adin.
Diantara
wanita itu, dari yang tercantik, mereka tak luput dari kelebihan yang sangat
membanggakan. Saya akan perkenalkan satu-satu dewi indah dan setiap inci
kecantikannya dalam cerita ini.
Pertama,
Atiah Arij. Sebut saja Tiar, 20 tahun. Wanita cantik ini tidak bisa menutup
mata laki-laki untuk tidak melihat kecantikannya. Ia mempunyai suara yang
sangat merdu. Ia sering diundang diberbagai acara sebagai pembaca Qiro’ah. Tiar
wanita yang lincah. Ia akan melakukan apapun yang menurutnya benar. Ia tidak
akan mundur sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Sifatnya yang sangat
ceria dan bermasyarakat membuatnya dikagumi banyak orang sekitarnya.
Tiar
mengenal Adin sejak kecil. Mereka sering bermain bersama. Kekagumannya pada
pria itu tidak dapat disembunyikan. Tiar selalu menunjukkan perhatian padanya.
Namun, Adin tak pernah mengerti arti perhatian Tiar.
Kedua,
Nia Nasywah. Panggil Nia, 20 tahun. Tak luput dari kecantikan. Ia pun baik. Nia
adalah anak perempuan satu-satunya dikeluarga dengan dua kakak laki-laki.
Dikeluarganya, ia sangat dijaga. Ketakutan Ibunya akan hal buruk pada Nia
membuat Ibunya tak henti mengurung Nia dirumah. Dengan kata lain, ia tidak bisa
bermain leluasa. Nia patuh terhadap apa yang dituturkan Ibunya. Hingga ia tidak
begitu mengenal akan laki-laki. Tapi, ia pun sudah mengenal Adin sejak kecil.
Nia, Tiar dan Adin adalah teman SD. Mereka telah mengenal satu sama lain.
Sebatas teman kecil. Mereka tak pernah tau maksud hati.
Nia
pun diam-diam menaruh hati pada Adin. Tapi ia hanya bisa menyimpan rasa itu
tanpa isyarat. Ia hanya wanita yang pandai menyimpan rasa. Hingga sampai saat remaja
(SMA), Nia tidak bisa mengharap Adin lagi. Karna ia tau Adin tidak mempunyai
rasa yang sama. Nia memutuskan menerima laki-laki yang bisa meluluhkan hatinya.
Meskipun hati Nia masih terpaut oleh Adin. Namun, ia coba menerima Dias sebagai
kekasihnya hingga sekarang.
Ketiga,
Nabilah Mufidah. Panggil Bilah, 19 tahun. Menggemaskan dan sangat calm. Bilah
mempunyai wibawa yang sangat tenang. Parasnya yang lucu, dengan pipi cembung serta
bola mata hitam yang besar. Membuat Bilah terlihat seperti boneka cantik. Ia
wanita yang ceria dan sangat mengayomi teman-temannya. Ia bijak dan cerdas.
Juga tidak pernah pantang menyerah. Bilah mengenal Adin saat dibangku SMA.
Seperti yang sering dirasakan pada remaja lainnya, ia mengangumi Adin saat Mos.
Adin menjadi salah satu panitia. SMA Bilah juga berarti SMA Nia pula. Mereka
bertiga ada dalam satu arena sekolah.
Bilah
anak yang aktif berorganisasi. Ia selalu berpartisipasi pada setiap organisasi
sekolah. Itu yang membuat ia selalu bisa melihat setiap butir kegagahan Adin
dalam organisasi. Kebiasaan ini membuat Bilah tidak bisa menolak rasa yang
diabaikannya. Ia mengagumi Adin. Dan lagi, Bilah pun hanya memilih diam.
Saya
hanya bisa menyebutkan tiga dari seribu wanita yang mengegumi Adin.
Adin
dimasa kecilnya terdidik keras oleh keluarga. Ia sangat takut membantah
orangtua. Setiap perkataan orangtua
tidak akan pernah bisa ia bantah. Ia adalah laki-laki yang sangat patuh dan
tidak pernah membangkang ataupun mengeluh. Situasi apapun, ia akan melakukan
apa yang diinginkan orangtua selagi ia bisa. Karena Adin tau, saat orangtua
menyuruhnya, berarti ia masih sanggup menjalankannya. Orangtua akan mengerti
dimana saat anaknya benar-benar masih sanggup atu memang benar-benar tidak
sanggup. Jika oangtua melihat anaknya benar-benar tidak sanggup, mereka tidak
akan menyuruh anaknya. Seperti itu pegangan Adin.
Dimasa
remajanya ia pun tumbuh sebagai laki-laki yang sangat menghargai dan dihargai
orang disekelilingnya. Bicaranya tak pernah meninggi. Namun, ia tetap remaja
biasa yang penuh canda. Tidak memilih teman. Dan tau batas yang tidak menyakiti
orang lain. Termasuk dalam memilih teman dekat wanita.
Tiar
dalam hatinya masih mengharapkan keberadaan Adin untuk menjadi orang yang bisa
lebih dekat dengannya. Namun Adin tidak pernah member perhatian yang lebih terhadap Tiar. Adin sudah
dewasa, ia tahu gerik wanita yang memberinya perasaan. Ia tahu bagaimana harus
bersikap untuk tidak membuat hati Tiar kecewa dan membuat Tiar mengerti agar
hubungan mereka tidak lebih dari sekedar teman. Setidaknya, Adin tidak
memberikan harapan pada Tiar. Tiar pun faham dan mengerti.
Adin
pun sudah punya pilihan pada hatinya yang tidak bisa dipungkiri. Ia mengagumi
Bilah. Mereka pun dekat. Walaupun ada sedikit hati yang sebenarnya belum bisa
dihilangkan Adin pada dambaannya dulu.
Kedekatan
Adin dengan Bilah tidak bisa dihindari dalam satu bangunan. Saling memberi
semangat, saling mendukung, saling mengingatkan. Namun Adin tidak pernah memberi
status pada hubungannya. Ia selalu berkata “dia teman wanita terdekatku”. Bukan
semata menjadikan Bilah sebagai kekasih.
Saya
pikir, istilah itu lebih dalam, dari “iya, dia pacar saya”. Bukan begitu?
Nia
pun mau tidak mau mendengar kabar kedekatan mereka berdua. Tapi, sekali lagi ia
hanya bisa menarik nafas dan menerima kabar itu dengan dewasa. Ia juga sudah
punya Dias dihidupnya saat itu. Remaja tinggal lah remaja. Kisah sekolah remaja
memang selalu punya cerita. Kini, mereka semua telah dewasa. Bangku kuliah
telah mereka duduki dengan menantang.
Fiksi

0 comments:
Post a Comment
Komentar