Satu Tanggal

10 September 2013, 
Selamat pagi luka. selamat pagi kebencian yang telah terbentuk dalam hitungan detik. Dua perasaan yang saling berlawanan. Dua musim yang tidak pernah kusuka. Dua hati yang tidak pernah kuinginkan. Dua kisah yang tak pernah kuharapkan. Dan, dua cinta yang akhirnya terbang bebas tak hirau pada hati. 

Bukankah kemarin harusnya menjadi hari yang selalu indah untuk kita? Hari yang selalu kita tunggu-tunggu sebagai kebahagiaan diselah kebosanan kita. Sebagai pengingat, bahwa kita adalah pasangan yang selalu kuat. Selalu berpegang pada komitmen. tapi kenapa semua itu bias larut dalam hitungan detik. Hitungan menit saat kita beradu mulut, mencari celah kesalahan. Mencari selah untuk bertengkar. Mencari-cari sesuatu untuk hal yang bias membuat kita, pisah. 

Kau kira semudah ini aku harus melepaskanmu dalam sangkarku yang telah kuhias cantik selama ini? Itu pikiran bodoh. Hubungan ini bukan padi yang baru ditanam. Ini sudah mengakar. Apa kau tahu bagaimana sang tanaman berusaha mengakarkan dirinya hingga ia berusaha tumbuh dengan baik dan siap untuk dipisahkan dari akarnya. Itu perjuangan. Apa kamu tahu bagaimana sedihnya penanam melihat sang bunga yang diharapkan tumbuh mekar dan elok, namun ia layu dan mati? Itu menyedihkan. Sangat menyedihkan. 

Kusadari semua yang terjadi sekarang adalah ulahku sendiri. Ulah yang memang seharusnya tak harus kulakukan, karna resiko ini sangat fatal. Hingga sampai kita sekarang saat ini. Kita terpisah dalam satu tanggal. Dimana kita pernah meminta untuk bersama, dan saat itu juga kita meminta semuanya untuk berakhir begitu saja. Semudah itu? 

Untukku, sudah tidak pernah tau apa yang harus kuperjuangkan. Setelah perkataanmu yang menyimpulkan bahwa kamu sudah diambang lelah. Aku pun juga. lantas dimana lagi kita harus berlari mengejar perjuangan yang harus kita pertahankan. Dari kata “lelah” bukankah kita memang harusnya beristirahat terlebih dahulu? Namun, haruskah kita istirahat dengan batas yang jauh. Kamu pulang, aku pulang. Kita terpisah hanya untuk beristirahat. 

Tiga tahun sudah kita berlari. Kita menghadapi reruntuhan masalah. Menanggapi beribu cemooh. Menghalangi ratusan angin masuk agar tidak membangunkan kita tidur dirumah kita saat kita lelah.

Sudahkah kita lelah dan tak punya senjata lain untuk menghadapinya? 

Aku masih punya senjata yang kusimpan. Tapi mungkin senjata ini akan kukeluarkan diwaktu yang tepat. Senapan ini sisa senjataku yang paling akhir. Aku butuh waktu untuk berpikir, melepaskan senjata ini tidak seperti melempar senapan pada burung merpati yang sekali senap ia mati sia-sia untuk dibakar dan dimangsa manusia. 

Jika waktu yang kuhela untuk melepas senap itu tidak ada. Akan kusimpan senjata ini sampai aku tidak tahu dimana senapan ini harus kubuang. Karna bagiku, senjata ini adalah kunci akhir dari perang-perang yang sedang kita lewati. Jika memang senjata ini pada akhirnya tidak terpakai, mungkin akan kusimpan hingga ia berdebu. Sebagai pengingat saja. Bahwa perang akan berakhir pada satu peristiwa kemerdekaan yang benar-benar merdeka. 
 Menikah. Dan menunggu kita terpisah oleh ajal :’) 

Selamat tinggal sejarah.. 
Kau harus kupelajari lebih dalam sebelum aku kembali menghadapi perang dan merdeka.

0 comments:

Post a Comment

Komentar